Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2011

Cinta Yang Tak Terganti

“Bunda tahu, kehilangan Rado sangat menyakitkan dan tidak bisa tergantikan. Tapi coba Rianti membuka hati buat Ryan. Dia juga saudara kembar Rado, setidaknya....”

Guntur di luar, suaranya menggiriskan hati. Angin dan air seperti beradu. Dingin. Bibirku sudah membiru, gigiku beradu, menahan dingin yang menggigit. Padahal sudah kukenakan
sweater pemberian Rado, ketika dia menjalankan tugas ke Padang. Rado? Saat dia mengingat nama itu, tiba-tiba air bening menyeruak begitu saja dari matanya. Bobol lagi pertahananku. Dasar cengeng! Kenapa aku harus menangis lagi?

Peduli amat, orang bilang cintaku cinta monyet. Namanya juga baru kali ini aku mengenal cowok secara serius. Maklum. Keluargaku sedikit kolot. Anak cewek tidak boleh keluyuran. Pulang sekolah, wajib langsung diam di rumah. Kalau tidak ikut pengajian, aku musti membantu Meta, adikku, belajar. Kadang aku juga menemani ibu belanja keperluan toko kami. Padahal aku merasa sudah dewasa, umurku sudah enam belas tahun... tapi tetap saja kedua orangtuaku menganggap aku belum tahu apa-apa.


Siang itu aku mau menjemput adikku. Kebetulan aku pulang cepat, sehingga bisa menjemput Meta. Ketika aku menyeberangi jalan, tiba-tiba muncul sebuah mobil sedan berwarna biru langsung menuju ke arahku. Karena begitu cepatnya, aku tak mampu berlari atau berteriak lagi. Aku malah terpaku, seperti menunggu maut itu menjemputku....
Darrr! Suara keras itu memekakkan telinga. Aku merasa tubuhku melayang, entah berapa lama sampai sebuah tangan dingin menepuk-nepuk pipiku.

“Bangun, Mbak.... Mbak nggak apa-apa?”
Aku menggeliat. Ringan banget rasanya. Kupikir aku sudah mati. Ternyata aku sudah ada di sebuah rumah makan. Aku baru ingat, rumah makan itu kan letaknya berseberangan dengan sekolah adikku. Lantas....

“Mbak tadi nyaris jadi korban tabrak lari. Orang gila tuh! Untung ada temannya mbak duluan nyamber. Kalau tidak, aduhh...” cerocos seorang ibu setengah baya yang keluar sambil membawakan dua cangkir teh hangat. Mmm... pasti si empunya rumah makan.

“Temanku???” Aku berusaha menajamkan lagi penglihatanku. Sesosok cowok jangkung dengan baju seragam yang sama denganku, kelihatan menunduk tersipu.

“Sori, aku tadi ngaku-ngaku temen kamu. Nggak apa-apa kan, kita juga satu sekolah... daripada ribet neranginnya ke ibu itu,” bisik cowok itu.

Aku terhenyak. Aku yang malu, anak satu sekolah tidak kukenali. Kuper banget.

“Yuk kuantar pulang. Aku bawa kendaraan....”

Aku menggeleng. Tiba-tiba bayangan adikku terlintas....

“Aku ada janji. Thanks, ya....”

“Yakin, nggak apa-apa?”

Aku menggangguk, “Serius.”

“Oke deh... bye. Aku duluan.” Cowok itu beranjak dari duduknya, sebelum aku sadar, dia sudah pergi. Dasar! Bodoh benar aku. Kenapa tidak kutanya siapa namanya? Kelas berapa?

Ah, wajahnya saja mulai samar-samar. Aku tidak ingat bener, hanya sekilas kuingat tatapan matanya yang tajam dan genggaman tangannya yang begitu kuat dan hangat. Siapa sangka, aku kembali bertemu cowok itu saat briefing hari pertama workshop pers abu-abu di sekolahku. Rado... menyebut namanya saja, pipiku bisa merona tiba-tiba. Entah kenapa, keingintahuanku untuk mengenal dirinya lebih dalam begitu menggoda, sampai-sampai aku jadi lebih cepat datang ke sekolah, hanya untuk melihatnya datang, dari teras kelasku.
11 JANUARI
Rado... Rado. Andai ini mimpi, aku tak berani untuk bangun. Aku ingin tetap terlelap dalam mimpiku. Saat kau bilang, kau ingin selalu menjagaku dalam sedih dan senang, dalam tangis dan tawa. Duh, romantisnya. Dia nembak aku bukan dengan cincin, bunga, atau sekotak coklat. Tapi dia membuatku terhenyak, ketika dia memberiku kumpulan lagu-lagu kesukaanku dalam satu CD yang dia mix sendiri. Seperti lagu Gigi, ya.. dia nembak aku pas tanggal 11 Januari, dua tahun yang lalu.
Rado... andai kamu tahu, kamu benar-benar sudah mengubah sebagian besar hidupku. Aku yang pemalu, penyendiri, kini seperti bunga yang mulai berani memperlihatkan kelopaknya. Aku mulai berani aktif di berbagai ekskul, seperti kamu. Aku mulai tahu, tidak semua laki-laki sejahat yang kudengar dari doktrin kedua orangtuaku. Ada juga cowok yang berhati hangat seperti kamu.

Saat aku jatuh, saat aku kecewa, kamu selalu ada. Ketika rumor membuat keluargaku nyaris berantakan, kamu justru datang menentramkanku. Aku tak tahu lagi, apa yang harus kukatakan buat menunjukkan aku juga serius sayang kamu. Impian kita rupanya tinggal selangkah lagi. Dua tahun sudah kita lalui, orangtua kita juga seperti keluarga besar.

Rencana pertunangan di depan mata. Bahkan sudah ada tanggal pernikahan! Kata orangtua kami, bertunangan dulu yang penting. Biar masih kuliah, ntar juga bisa diatur.

Rona bahagia tidak mampu kusembunyikan. Pagi itu, kebaya brokat warna biru muda siap kukenakan. Aku masih sibuk dirias, saat kudengar suara ibuku seperti berteriak, setengah histeris. Aku masih tak mengerti, ketika ayahku duduk di depanku, berkata lamat-lamat.... Rado sudah pergi.

Seisi rumahku menjadi gaduh. Tapi entah kenapa, aku tidak bisa menangis. Aku juga tak merasakan apa-apa, ketika ayah menjelaskan Rado mengalami kecelakaan 5. dan tewas seketika di tempat kejadian. Telingaku seperti mendengung, tak jelas. Badanku seperti mati rasa, kebal, tak berasa apa pun.
11 Januari saat Rado nembak aku. Tanggal itu pula rencana pertunangan kami. Tanggal itu pula tanggal Rado dimakamkan. Rado meninggalkanku, tanpa pesan, tanpa tanda apa pun. Cowok yang sudah dua tahun ini mengisi hari-hariku. Namanya memenuhi diary-ku. Namanya selalu ada dalam doa sujudku.

Aku tak punya air mata lagi. Entah kenapa, hingga jasadnya menghilang tertutup tanah, aku tetap tak mampu menangis. Aku seperti limbung, berada di tempat asing. Sekelilingku tak kukenali lagi.

Pulang ke rumah, ketika aku duduk di depan televisi, bayangan itu mengganggu lagi. Bayangan waktu Rado menolongku pertama kali, lantas dia mengajariku mengurus mading, sampai nembak aku dengan sebuah CD. Badan dan hatiku seperti mati rasa. Tiba-tiba saja, aku mendengar Ibu dan Ayah berteriak histeris, sekilas kulihat bayangan mereka semakin jauh dan gelap.

***
Minggu pagi, saat kumulai hariku. Aku melenggang sendiri. Tujuanku ke makam Rado, sekedar menengok dan mendoakannya. Ya, aku kangen. Tiba di makam, aku nyaris terhenyak. Mimpikah aku? Kenapa Rado masih duduk di depan makam? Lantas....

Orangtua Rado menenangkanku. Ternyata satu hal yang belum kutahu. Rado punya saudara kembar yang diasuh neneknya. Ryan, nama cowok yang mirip sekali dengan Rado. Astaga....

Guntur masih menggelegar. Lamunanku terputus. Ah, aku terlalu lama melamun. Bayangan Rado dan Ryan tiba-tiba bermain dalam benakku. Aku ingat pembicaraan siang tadi di rumah, ketika bunda Rado datang.
“Bunda tahu, kehilangan Rado sangat menyakitkan dan tidak bisa tergantikan. Tapi coba Rianti membuka hati buat Ryan. Dia juga saudara kembar Rado, setidaknya....”

“Rado bisa diganti Ryan, itu maksud Bunda?” Entah kenapa, nadaku langsung tinggi menanggapi maksud ibu Rado. Memangnya aku barang. Tidak dengan A, bisa dengan B, sekalipun mereka sedarah?
Aku terduduk lemas di ruang makan. Bayangan Rado dan Ryan lamat-lamat semakin jauh. Kumohon, Tuhan, haruskah kuterima cinta Ryan? .
  

oleh :Stephanie

sumber :http://anekayess-online.com 
 

Rabu, 30 November 2011

Kimpul

Awan hitam merangkak pelan. Awan seperti itu setiap hari mengancam pada musim hujan dan merupakan isyarat tak lama lagi hujan akan mencurah deras. Curah hujan belakangan inimemang tinggi. Banjir dan genangan air kemudian menyusul di beberapa tempat.
Kimpul belum bergerak dari tempat duduknya. Sejak pukul delapan pagi hingga pukul dua belas tengah hari itu belum seorang pun singgah dan meminta jasanya. Biasanya, ia baru bergerak setelah hujan rintik-rintik turun dan berlari jika rintik-rintik air itu bertambah besar. Terkadang ia terpaksa siap untuk basah kuyup karena hujan deras mendadak turun tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk berlindung di tempat berteduh.
Tempat berteduh yang nyaman bagi Kimpul adalah Stasiun Besar di seberang jalan raya yang jaraknya kira-kira tiga puluh meter dari tempatnya bekerja. Ke sanalah ia berlari dan berlindung selama hujan mencurah. Berlari dan berlindung seperti itu setiap hari harus dilakukannya selama musim hujan. Jika hujan tidak lagi berderai Kimpul kembali ke tempatnya semula, menunggu siapa saja yang membutuhkan jasanya.
Kimpul masih menunggu dan berharap. Mudah-mudahan ada orang yang singgah ke tempatnya walaupun hanya satu orang karena selama dua hari belakangan ini tidak seorang pun menyapanya dan duduk di kursi di depannya. Ia menatap toko-toko buku baru dan buku bekas yang berjejer tidak jauh di depannya, toko-toko yang menghambat pemandangan ke lapangan di belakangnya. Dulu, semua toko buku itu tidak ada dan setiap orang yang berada di Stasiun Besar, yang sedang melangkah atau berkendaraan di jalan raya atau berdiri di tempat Kimpul duduk saat itu, dengan leluasa dapat melihat lapangan di belakang toko-toko buku itu.
Di keempat sisi lapangan rumput itu terdapat parit yang membatasi lapangan dengan lahan kosong yang lebarnya lima belas meter di sekeliling lapangan. Tidak sedikit orang lalu lalang di lahan kosong ini, karena di sana banyak gerobak yang menjual makanan dan minuman. Para penumpang kereta api dari luar kota yang turun di Stasiun Besar umumnya makan dan minum di lahan kosong ini.
Pada tengah hari, para penjual obat kaki lima berteriak-teriak berkampanye di lahan kosong yang teduh di bawah kerimbunan pohon-pohon besar yang telah puluhan tahun berdiri di sana. Semua penjual obat berlomba memamerkan kehebatan mereka berorasi agar pengunjung yang melingkar di sekitar mereka mau membeli obat yang mereka jajakan. Dan, setiap orasi pastilah memuji kemujaraban obat. Begitu orasi selesai biasanya ada saja pengunjung yang langsung membeli obat mereka.
Masih erat melekat dalam ingatan Kimpul bahwa seorang penjual obat kaki lima itu berhasil meningkatkan diri menjadi bintang film. Semula ia hanya menjadi figuran dalam film ”Lewat Jam Malam” yang disutradarai Usmar Ismail. Ia kelihatan beberapa detik di layar putih, karena hanya berperan sebagai orang yang harus berjalan kaki dari sebuah pintu ke pintu lain yang jaraknya hanya tujuh meter. Tapi, setelah itu ia muncul dalam beberapa film lain sebagai pemeran utama. Hebat si Djoni, ujar Kimpul kepada dirinya sendiri.
Begitu cepatnya keadaan berubah, Kimpul membatin. Dulu, lapangan luas itu selalu digunakan untuk tempat berbagai rapat umum dan upacara peringatan hari kemerdekaan sambil mendengarkan pidato Bung Karno. Ribuan murid sekolah SMP dan SMA diwajibkan hadir di sana untuk mendengarkan pidato berapi-api Pemimpin Besar Revolusi yang gagah itu.
Di selatan lapangan rumput itu terdapat hotel megah peninggalan penjajah Belanda. Kini hotel itu tidak kelihatan lagi karena telah berganti dengan gedung milik sebuah bank dengan lapangan parkir yang luas. Di utara lapangan, di Jalan Rumah Bola, terdapat sebuah tempat pertemuan orang-orang Belanda yang setelah kemerdekaan diberi nama Balai Prajurit. Balai itu sirna sudah karena di lokasi itu telah dibangun sebuah pusat perbelanjaan yang senantiasa rampai pengunjung.
Kimpul merasa perubahan terjadi begitu cepat tanpa menyadari bahwa ia telah empat puluh tahun menjual jasanya di pinggir lapangan itu sejak berusia dua puluh lima tahun. Karena kondisi yang berubah ini, nasib Kimpul turut berubah. Kalau dulu banyak orang yang satu profesi dengan Kimpul bekerja di bawah pohon rindang di pinggir lapangan, kini hanya dia dan seorang lagi yang masih menawarkan jasa di sana. Kalau dulu tanah kosong yang mengelilingi lapangan terasa teduh karena beberapa pohon rimbun berdiri kukuh di sana, kini tanah kosong itu lenyap sudah karena seluruhnya ditelan ruko-ruko yang beroperasi hingga malam hari. Cahaya matahari langsung jatuh di toko-toko buku itu, karena sebagian pohon telah ditebang.
Sekarang, lahan kosong pun semakin sempit. Di lahan kosong yang sempit itulah Kimpul dan seorang temannya membuka praktik sebagai pemotong rambut yang lazim disebut tukang pangkas. Dengan hanya bermodalkan sebuah kursi lipat, sebuah cermin yang diikatkan ke sebuah tiang, seperangkat alat pemotong rambut yang dibawanya di sebuah tas kecil yang kumuh dan sebotol air, ia siap melayani siapa saja. hingga menjelang magrib.
Awan hitam yang merangkak tidak lagi kelihatan. Hujan juga tidak jadi berkunjung. Hari kembali cerah hingga sore hari. Kimpul masih menunggu. Ternyata tidak ada orang yang ingin meminta jasanya untuk memangkas rambut. Ketika magrib memperlihatkan wajahnya, Kimpul mengambil cermin dari tiang yang dipancangnya, mencabut tiang itu, melipat kursi yang sejak pagi didudukinya, mengambil tas kumuh yang berisi alat-alat cukur dan membuang air yang tersimpan dalam botol. Setelah itu dengan mengayuh sepeda ia pulang tanpa memperoleh uang sepeser pun seperti dua hari sebelumnya.
***
Ketika Kimpul terangguk-angguk karena mengantuk, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia segera membuka mata dan berdiri. Seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di depannya sambil tersenyum. Ia menyilakan laki-laki itu duduk di kursi lipat yang sebelumnya didudukinya. Kimpul menduga laki-laki itu akan memotong rambut. Laki-laki itu menolak dengan sopan dan tetap berdiri.
”Pak Kimpul, kan?” kata lelaki muda itu bertanya.
”Benar, saya Kimpul”.
”Masih kenal saya, Pak?”
Kimpul menatap laki-laki itu, memperhatikannya dan mencoba menggali ingatannya. Ia tidak berhasil. Karena itu ia menggeleng dengan sopan.
”Saya Dasuki.”
”Dasuki?” Kimpul kembali mencoba membangunkan memorinya. Sekali lagi ia tidak berhasil.
”Tidak apa-apa, Pak, kalau tidak ingat. Maklum peristiwanya sudah lama sekali. Lima tahun. Cukup lama memang.”
Kimpul semakin tidak mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu. Jangan-jangan dia salah alamat. Mungkin saja yang dicarinya memang Kimpul, tapi Kimpul yang lain. Laki-laki yang menyebut namanya Dasuki itu tidak ingin melihat wajah Kimpul yang bengong seperti itu.
”Lima tahun lalu saya pangkas di sini. Pak Kimpul yang memotong rambut saya. Ketika Bapak akan mencukur janggut, kumis dan cambang saya, tiba-tiba turun hujan deras. Saya menyambar sepeda motor dan segera memacunya ke stasiun itu untuk berteduh,” katanya sambil menunjuk ke arah Stasiun Besar. Kimpul mendengarkan dengan serius.
”Saya melihat Pak Kimpul berkemas dan membawa semua peralatan Bapak ke stasiun. Cuma, karena banyak orang di sana, saya benar-benar tidak tahu di mana persisnya Pak Kimpul berteduh. Hingga hujan berhenti dan semua orang meninggalkan emper stasiun, saya juga tidak melihat Pak Kimpul. Karena saya harus segera kembali ke kantor, saya tidak kembali lagi ke tempat Bapak bekerja. Saya langsung pergi dengan janggut, kumis dan cambang yang belum dicukur. Saya buru-buru karena mempersiapkan kepindahan saya ke Jakarta dua hari setelah itu.”
Kimpul masih dengan tekun mendengarkan penjelasan orang yang bernama Dasuki itu.
”Lima tahun saya terganggu karena belum membayar ongkos pangkas rambut itu. Karena itu hari ini saya sempatkan ke sini, pada saat saya sedang bertugas ke kota ini. Saya ingin membayar utang saya itu.”
Begitu selesai mengucapkan kalimat itu ia mengambil uang dari sakunya dan menyerahkan Rp 100.000 kepada Kimpul. Karena Kimpul masih tidak memahami cerita laki-laki itu, ia diam saja dan tidak berani menerima uang yang diulurkan kepadanya. Dasuki memberikan uang itu ke tangan Kimpul dan menggenggamkannya.
”Permisi, Pak Kimpul, saya harus pergi sekarang untuk rapat. Kalau sempat saya akan datang lagi,” kata orang yang bernama Dasuki itu sambil melangkah pergi.
Kimpul merasa uang yang tergenggam di tangannya itu bukan miliknya. Ia pasti salah alamat, pikir Kimpul. Karena itu Kimpul buru-buru berjalan ke arah laki-laki itu pergi. Setelah itu ia berlari-lari kecil di keempat sisi lapangan, namun laki-laki tidak ditemukannya. Ia kembali ke tempatnya bekerja dengan napas tersengal-sengal. Kimpul benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan uang Rp 100.000 di tangannya itu.
Ia berpikir keras dan menggedor ingatannya. Akhirnya ia sampai kepada kesimpulan bahwa semua yang diungkapkan laki-laki itu tidak benar dan tidak pernah terjadi. Ingatannya cukup kuat untuk mengetahui semua itu. Lalu mengapa ia memberikan Rp 100.000 sedangkan biaya pangkas lima tahun lalu cuma Rp 5.000. Kimpul bergumam, dari mana pula orang bernama Dasuki itu tahu namaku, padahal aku tidak pernah menyebutkan namaku kepada pelanggan karena memang tidak ada yang pernah bertanya.
***
”Bagaimana Das? Ketemu dengan orang yang kamu cari?”
”Tidak,” sahut Dasuki menjawab pertanyaan istrinya.
”Lalu bagaimana?”
”Aku mengelilingi lapangan itu. Hanya dua orang tukang pangkas yang aku temukan. Yang satu masih muda dan yang seorang lagi, aku rasa berusia lebih dari enam puluh tahun. Mungkin sekitar enam puluh lima tahun. Sebelum aku menghampiri orang tua itu aku bertanya dulu kepada penjaga toko buku bekas yang kumasuki sebelumnya. Dialah yang memberikan nama Kimpul itu kepadaku.”
Dasuki menunggu reaksi istrinya. Istri Dasuki menunggu kelanjutan cerita suaminya.
”Lalu aku datangi orang tua itu dan kuberikan Rp 100.000. Aku ceritakan alasan mengapa aku memberikan uang itu. Dia bengong dan mulanya tidak mau menerima uang itu. Tapi aku berikan uang itu kepadanya dengan menggenggamkannya. Setelah itu aku pergi dan berjanji akan datang lagi kalau aku masih punya waktu luang.”
”Kamu yakin bukan itu orang yang kamu cari?”
”Aku belum lupa wajah orang yang dulu memangkas rambutku. Pipinya kempot, kepalanya botak dan tubuhnya ceking. Aku melihatnya begitu aku selesai makan gado-gado yang enak di pinggir lapangan itu. Karena kasihan aku segera menghampirinya, duduk di kursi kayunya dan memintanya memotong rambutku. Padahal sebelumnya aku berniat memotong rambut di barber shop di sebelah kantorku. Hanya karena aku ingin makan gado-gado dulu makanya aku pergi ke pinggir lapangan itu, bertemu dengan orang tua itu, jatuh kasihan dan memintanya memangkas rambutku.”
Melihat Dasuki menceritakan hal itu dengan lancar istrinya tersenyum dan tidak bertanya apa pun. Dasuki yang merasa perlu memberikan penjelasan lebih lanjut.
”Orang yang kuberi Rp 100.000 itu berambut lebat, beruban dan tidak kurus. Tapi dengan memberikan uang itu aku merasa utangku telah terbayar.”
”Kamu yakin akan merasa tenang setelah membayar utang itu walaupun bukan kepada orang yang berhak menerimanya?”
Lama Dasuki menunduk dan terdiam. Kemudian ia menengadah dan menatap istrinya.
”Aku tidak tahu. Aku harapkan begitu.”

Sumber : http://cerpenkompas.wordpress.com

Jumat, 18 November 2011

Aku Bukan Pilihan Hati Mu

Malam minggu ini Puji merasa sedih dan gelisah. Ketika Puji nelfon pacarnya tak pernah diangkat. Smsnya pun juga tak pernah dibales. Hingga kerinduanya memuncak ketika setiap kali Puji nelfon tak pernah diangkat hingga berkali-kali. Lalu sesekali dia menatap foto besar pacarnya yang terpampang di sebelah kiri pintu kamarnya, walau dirinya tetap saja kangen dengan pacarnya, si Angga. Tapi sekarang dia tmbah gelisah dan jengkel ketika teringat dengan Renaldi yang sebentar lagi akan main ke rumahnya. Renaldi ini adalah salah satu temannya yang mencintai dirinya. Tak lama kemudian si Renaldi datang. Segera Puji ganti baju dengan gay kesukaannya kaos hitam, celana hitam. Sebenarnya dia nggak suka kalo Renaldi datang kerumahnya tapi karena dia juga kasihan dengan Renaldi yang datang jauh-jauh ke rumahnya.
Puji keluar kamar setelah dipanggil oleh orang tuannya. Kemudian menemui Renaldi yang telah menuggu lumayan lama sejak tadi.
“ Sebenarnya kamu mau ajak aku kemana?” tanya puji
“Ke tempat biasa............”
“Yaudah, langsung kesana aja nggak usah lama-lama di sini.”kata Puji dengan nyindir dan berharap Renaldi mengerti kalo dirinya nggak senang Renaldi di rumahnya.
Dia sempet diam dan menatap Puji begitu dalamnya hingga Puji merasa terganggu dengan tatapannya.
Segera Puji naik motor nya Renaldi. Dan renaldi langsung tancap gas menuju ke lapangana Mataram. Kebetulan di tempat itu ada pertunjukan teater yang menakjubkan. Yang merupakan acara perayaan hari jadi kota PAKALONGAN.
Sesampainya di tujuan, Renaldi memarkirkan motornya, kemudian duduk-duduk di trotoar yang tak begitu jauh dari panggung pertunjukan sehingga tampak terlihat jelas. Orang –orang telah memedati dari tadi. Mereka berdua sangat menukmati pertunjukan itu. Juga para penonton sangat menikmati pertunjukan itu, hingga tegang terbawa suasana pertunjukan teater itu. Sesekali Renaldi melihat rona wajah Puji yang terlihat jenuh, bosan dan cucek kepadanya.
“Puji. Apa kamu bosan melihat pertunjukan ini denganku.?” tanya Renaldi
“Nggak, aku Cuma terbawa suasana teater itu aja. Teater itu sungguh bagus dan menarik.” Kata Puji bohong. Padahal dia bosan dan nggak suka kalau deket-deket dengannya, hingga keinginannya untuk melihat teater itu terkikis sedikit demi sedikit hilang.
“Puji.....!!”
“Ya da pa....”
“Sebenarnya aku kesini tu mau ngomong sesuatu sama kamu. Aku ingin nagih janji kamu.”
“Janji apa........?”
“Janji kalo kamu mau ngasih jawaban ke aku sekarang.”
Puji menghela nafas, berfikir saat mendengar pertanyaan dari Renaldi. Dia berfikir, kalo dia nerimanya berarti dirinya telah menyianyiakan kepercayaan dari pacarnya. Tapi kalo dia nolak Renaldi, juga merasa khawatir nantinya Renaldi akan kecewa dan putus asa, karena ini merupakan kesekian kalinya Renaldi menyatakan cinta kepada Puji. Puji betul-betul dilema saat itu, dia bingung apa yang harus dilakukannya malam itu.
“Puj kenapa kamu diam...? apa ada yang salah dengan pertanyaanku ini ?” tanya Renaldi yang tak sabar menunggu jawaban dari Puji.
“Nggak kok. Maafkan aku kalo selama ini kamu telah menunggu moment ini,hingga aku tak menyadari itu. Tapi........”
“Tapi apa puj..!!” tanya Renaldi yang semaki penasaran
“Mungkin......mungkin Sekarang belum saatnya, belum saatnya aku ngasih jawaban ke kamu. Aku harus pikir-pikir dulu.” Kata Puji terbata-bata dan semakin gugup ketika Renaldi terus-terusan menatap dirinya.
“Hal apalagi yang harus kamu pikirkan...!!?” Renaldi semakin emosi
“Banyak! Dan kamu tak perlu tau itu”
Hampir saja Puji meneteskan air mata, tapi dia cepat-cepat mengusapnya hingga Renaldi tak melihat kejadian itu. Renaldi menghela nafas hampir putus asa, tetapi dia yakin suatu saat Puji akan menerimanya menjadi pacar.
Malam semakin larut kemudian mengantarka Puji pulang ke rumah. Dengan harapan bahwa besok Puji aka menerimanya sebagai pacar. Dan harapan itu akan selalu ada, tetap semangat dan tak pernah putus asa.
***
Keesokan harinya Puji menceritakan semuanya kepada Riko, sahabat terbaiknya. Riko menjadi teman curhatnya. Puji menceritakan semuanya kepada Riko tentang Renaldi dan Angga. Puji betu-betul minta tolong pada Riko, dia butuh sekali pendapat Riko
“ Rik, sekarang aku aku bingung banget dengan semua ini. Kamu tahu sendiri kan kalo aku dah punya pacar, dan akau sayang banget sama dia. Tapi Renaldi juga nembak aku,dan aku tak tega jika aku harus menolakanya. Aku bener-bener bingung saat ini.”
Dua hari setelah pembicaraan itu , Renaldi mengajak Puji nongkrong di tempat biasa debgab harapa Puji akan nagsih jawaban saat itu juga. Di sana Puji tanpa basa-basi langsung maenyatakan kesediaannya untuk jadi pacar. Renaldi senang mendengar jawaban dari Puji, karena memang itu yang ditunggu-tunggu. Renaldi menikmati hari itu dengan indah. Akhirnya harapan itu bener-benar jadi kenyataan. Tapi Puji terlihat tak menikmati hari itu, terlihat rona wajahnya yang mengerut, bosan.
Dua minggu setelah jadian Renaldi dan Puji sering kalai jarang bareng. Tapi saat kemesraan itu terjalin, adacslah satu cewek yang beruasaha ndeketin Renaldi. Kedekatan itu membuat Puji cemburu. Tapai anehnya Renaldi tak pernah memikirkan apakah dengan kedekatan itu Puji akan cemburu. Apalagi Renaldi dan cewek itu terlihat begitu nyaman. Walaupun Puji tak begitu luar biasa sayangnya kepada Renaldi tapi kedekatan itu membuatnya cemburu yang tersimpan dalam hatinya. Atas kejadian itu Puji mencurahkan isi hatinya kepada teman terbaiknya, Riko. Pokoknya dia menceritakan kejadian semuanya terhadap Riko. Tapi Riko malah mengatakan
“ Tapi, kenapa kamu harus cemburu. Bukankah kamu tak suka beneran dengan Renaldi.?”
“Nggak aku nggak suka ma dia, aku tetep suka ma pacarku. Tapi aku nggak suka ja ma cewek itu yang sok kecakepan dan sok manis.”
Saat itu juga Puji mengatakan rencana barunya ke Riko. Suatu saat dia akan putus dengan Renaldi hingga Renaldi akan merasa sakit hati dan menyesal. Riko hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dalam hatinya dia berfikir kalo Puji terkesan mempermainkan Renaldi. Tapi Riko juga sadar itu haknya Puji. Dia tidak mau mencampuri urusan pribadi Puji terlalu jauh ke dalam yang penting dirinya sudah pernah membantunya.
***
Kini saatnya waktu yang tepat bagi Puji untuk putus dengan Renaldi. Apalagi akhir-akhir ini kalao dia jalan dengan Renaldi. Selain sekarang dia sudah punya alasan untuk mutusin Renaldi, juga karena dia merasa telah banyak dikecewakan olehnya. Untuk itu Puji mengajak Renaldi untuk ngobrol bareng di trotoar depan sekolah. Sambil nunggu teman-teman lainnya pulang. Tanpa basa basi Puji langsung mengutarakan isi hatinya sebenarnya
“Maaf Ren sekaranag kita harus putus, aku kecewa sama kamu. Aku bukan pilhan hatimu. Itu yang aku mau omongin sama kamu. Sekarang aku mau pulang,,,,,”
Renaldi yang mendengar itu langsung ngejar Puji ke parkiran yang akan segera pulang. Dia masih tak percaya harus putus dengan Puji, cewek yang dicintainya selama ini.”Apa salahku...?” Renaldi membujuk Puji agar teteap menjadi pacarnya tapi pengorbanannya sia-sia saja.
Puji pun berhasil lolos dari Renaldi, lalu tancap gas dan meninggalkan Renaldi yang kecewa sendirian. Renaldi teriak sekeras mungkin. Kecewa dan sedih atas kejadian ini. Dia berfikir dalam hati Mengapa begitu susahnya mendapatkan Hati puji tapi begitu mudah melepaskannya, teriakannya pun semakin keras saja. Hingga saking jengkelnya, dia langsung menendang motornya hingga jatuh dan lecet, menandakan hatinya sekarang sedang patah hati, kesel dan jengkel. Sedangkan Puji begitu puas atas kejadian ini.

Selesai

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons